GENERASI, MALANG – Rupiah terus melemah terhadap nilai tukar Dollar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir di triwulan pertama 2026. Apa pengaruhnya terhadap lauk pauk yang hadir di sepiring makanan setiap hari atau bahan bakar minyak yang dibutuhkan kendaraan untuk mobilisasi?
Di antara pembaca yang budiman, mungkin sudah tahu atau mendengar pidato Presiden RI, Prabowo Subianto yang mengatakan bahwa masyarakat di desa tidak menggunakan Dollar Amerika Serikat. Ucapan itu terdengar masuk akal, namun nyatanya, secara tidak langsung sangat memengaruhi kebutuhan masyarakat desa. Ambil contoh tentang kebutuhan pangan di atas piring.
Lauk pauk yang menyertai sarapan pagi kalian setiap saat itu harganya juga dipengaruhi Dollar Amerika Serikat, loh! Untuk sampai di atas piring, kita ambil contoh ikan laut saja, itu membutuhkan biaya.
Ada nelayan yang menggunakan solar untuk menggerakkan kapal menangkap ikan. Solar sebagai bahan bakar minyak harganya sudah naik, kan? Kenaikan harga itu juga pengaruh pelemahan Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat.
Begitu tiba di tempat pelelangan ikan, sejumlah distributor mengantar ikan dari pinggir laut ke tengah kota. Tentu saja mereka tidak mengantar ikan dengan sepeda pancal. Ada kendaraan yang juga menggunakan bahan bakar solar untuk mengantarkannya.
Pada episode perdana Semester Pendek kali ini, kami berbagi ilmu tentang kondisi nilai tukar mata uang ini. Harapannya, supaya kita semua tahu apa yang perlu dipahami dan disadari.
Kami mengajak memahami bahwa pelemahan Rupiah adalah cerminan kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Di bagian pertama ini, kita mengenal terlebih dahulu penyebab melemahnya Rupiah.
Kandidat doktor ilmu ekonomi sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Mochamad Rofik mengatakan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak bisa dipandang sekadar gejolak biasa. Pelemahan ini adalah kondisi nyata ekonomi Indonesia. Rupiah melemah, ekonomi melemah.
Pelemahan Rupiah bisa dipahami melalui teori dasar ekonomi mengenai permintaan dan penawaran. Permintaan investor terhadap Rupiah lebih kecil dibanding dengan Dollar Amerika Serikat. Investor lebih tertarik berburu Dollar Amerika Serikat. Menanam modal di Amerika Serikat lebih untung daripada di Indonesia saat ini. Rupiah ditinggalkan. Sikap inilah yang menjadi salah satu penyebab Rupiah melemah.
Tekanan terhadap Rupiah juga bisa dilihat dari faktor eksternal dan internal. Faktor internal, menurut Rofik datang dari kebijakan fiskal. Kebijakan fiskal yang dicanangkan pemerintah saat ini tidak cukup menjanjikan di mata para investor.
Kepercayaan investor terhadap iklim usaha di Indonesia menurun karena melihat kebijakan fiskal yang dianggap tidak menguntungkan. Ini yang dimaksud berisiko tinggi jika berinvestasi di Indonesia.
Akibatnya, banyak dana asing keluar dari Indonesia dan masuk ke pasar Amerika Serikat atau negara lain. Pasar masih melihat adanya berbagai persoalan regulasi dan ketidakpastian bisnis sehingga membuat investor berhati-hati.
“Ketika investor tidak percaya, yang terjadi adalah capital outflow atau keluar dari Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, langkah pemerintah berencana membentuk Satgas Deregulasi menunjukkan bahwa persoalan kemudahan usaha memang masih menjadi pekerjaan rumah besar. Kondisi ini memengaruhi kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Indonesia kan butuh modal untuk menggerakkan program. Nah, para investor ini sebetulnya bisa menggelontorkan uangnya untuk memodali program-program yang dicanangkan di Indonesia.
Ketika mereka mengucurkan modal, ya tentu saja mereka tidak mau rugi. Mereka harus yakin mendapatkan keuntungan. Namun saat ini keyakinan mendapatkan keuntungan itu rendah.
Rofik juga menyoroti kondisi fiskal Indonesia yang dinilai semakin sempit akibat tingginya belanja negara. Mayoritas belanja pemerintah masih bersifat konsumtif dan belum diarahkan secara optimal untuk sektor produktif.
“Pasar melihat belanja negara besar, tapi kurang produktif,” katanya.
Ia mencontohkan program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya memiliki efek pengganda ekonomi rendah dibanding besarnya anggaran yang dikeluarkan.
“Secara sosial program itu bagus, tapi dari perspektif pasar multiplier effect-nya kecil,” ujarnya.
Rofik mengutip kajian Celios yang menyebut dampak multiplier ekonomi dari program MBG sangat kecil meski menelan anggaran ratusan triliun Rupiah. Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia dilaporkan di atas 5 persen pada triwulan pertama 2026, Rofik menilai kualitas pertumbuhan tersebut perlu dipertanyakan karena lebih banyak ditopang oleh konsumsi pemerintah.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang government spending, bukan investasi swasta atau konsumsi masyarakat yang kuat,” katanya.
Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan negara seperti Vietnam dan Taiwan yang pertumbuhan ekonominya lebih banyak digerakkan sektor swasta.
Nah!
Tekanan terhadap Rupiah juga diperparah kondisi pasar modal domestik. Rofik menyoroti keluarnya sejumlah emiten Indonesia dari indeks MSCI yang dinilai memicu sentimen negatif investor asing.
“Pasar melihat ada persoalan tata kelola di pasar modal kita,” ujarnya.
Kondisi tersebut memicu aksi jual saham dan penarikan modal asing dari Indonesia, yang pada akhirnya semakin menekan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat.
Pada faktor eksternal, Rofik menjelaskan salah satu penyebab utama adalah kecilnya selisih suku bunga antara Indonesia dan Amerika Serikat yang saat ini hanya sekitar 1 persen.
Menurutnya, selisih tersebut tidak cukup menarik bagi investor global untuk menempatkan modal di negara berkembang seperti Indonesia.
Per 20 Mei, Bank Indonesia menetapkan suku bunga 5,25%. Sebelumnya sejak 17 September 2025 hingga 19 Mei 2026, suku bunga Indonesia di angka 4,75%. Sedangkan suku bunga Amerika Serikat maksimal 3,75%.
Meski suku bunga di Indonesia lebih tinggi atau dengan kata lain jaminan keuntungan lebih tinggi, namun risikonya juga lebih tinggi.
“Akibatnya, investor lebih memilih Amerika Serikat karena dianggap lebih aman,” katanya.
Selain itu, juga gejolak peran yang terjadi di Asia Tengah. Perang mengakibatkan distribusi minyak terganggu sehingga memengaruhi harga di pasaran.
Di bagian pertama Semester Pendek ini, Rofik merekomendasikan agar pemerintah perlu membangun kembali kepercayaan investor melalui perbaikan regulasi, penguatan iklim usaha, dan belanja negara yang lebih produktif agar tekanan terhadap Rupiah tidak terus berlanjut.
Penulis : Budi Akbar
Editor : Artika Rachmi Farmita































