Oleh: Benni Indo, Ketua Aliansi Jurnalis Independen Malang
Tulisan Ariel Heryanto di majalah Tempo edisi 6-13 Maret 2016 telah membantu saya memperluas wawasan tentang perlunya kolaborasi dunia jurnalistik dengan akademik.
Artikel berjudul Media Massa dan Publik Terpelajar tersebut berisi seruan kolaborasi antara media massa dan perguruan tinggi. Jurnalis dengan akademisi. Liputan investigasi dengan laporan jurnal ilmiah.
Pada awal pembahasan, Ariel mengungkapkan bahwa pertumbuhan media massa lebih banyak dibanding lembaga pendidikan di Indonesia. Oleh sebab itu, jurnalis memiliki peran ganda. Ya, sebagai jurnalis, juga sebagai akademikus.
Dahulu, media massa menjadi sumber berita bagi mayoritas publik terpelajar. Kini, media sosial sudah melayani kebutuhan tersebut secara berlimpah ruah. Media massa terlalu lemot sebagai sumber berita.
Menurut Ariel, media massa tetap bisa relevan bila mampu menyajikan jurnalisme investigasi yang mendalam, berwawasan cerdas, cermat dalam penyampaian, dan akurat dalam hal data.
Jika Ariel menawarkan jurnalisme investigasi, maka saya menawarkan jurnalisme sains. Sebuah konsep yang tidak jauh berbeda dari gagasan Ariel tentang kolaborasi antara jurnalis dan akademisi.
Jurnalisme sains menjadi penawaran saya untuk mengatasi ketimpangan informasi di tengah masyarakat. Saya berpendapat, sulitnya akses masyarakat terhadap karya ilmiah telah mengakibatkan ketimpangan pemahaman terhadap kondisi tertentu.
Akses itu bukan semata-mata hanya cara mendapatkannya, namun juga bagaimana peran bahasa tulis yang tampil di laporan ilmiah dapat mudah dipahami publik luas.
Publik yang beragam latar belakang. Publik yang berbagai latar level pendidikan. Juga bermacam-macam pengalaman hidup.
Begitu sebuah paragraf tidak menarik untuk dinikmati dalam baca, maka pembaca bisa segera mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan membaca. Itu juga bisa terjadi pada tulisan di laporan ilmiah.
Pengalaman saya mengajarkan, setidak-tidaknya hingga akhir tahun 2023, tahun saya menyelesaikan pendidikan magister ilmu komunikasi, masih terdapat beberapa dosen yang mengatakan tulisan populer bukan tulisan ilmiah.
Tulisan pada tesis saya disebut bukan tulisan ilmiah oleh dosen pembimbing. Saya bertanya-tanya, apa itu tulisan ilmiah? Dosen pembimbing hanya menyarankan saya membaca jurnal ilmiah.
Saya baca sejumlah jurnal ilmiah. Sejumlah itu pula saya menggelengkan kepala. Bahasa yang tidak mudah dipahami. Penempatan tanda baca yang berantakan. Runtutan kronologis yang tidak berkesinambungan. Betul-betul sangat mendominasi. Parahnya lagi, itu yang dianggap sebagai tulisan ilmiah.
Bagi saya, tidak pernah ada istilah tulisan ilmiah dan tidak ilmiah. Ilmiah itu adalah caranya, bukan tulisannya. Cara ilmiah berbeda dengan tulisan, sekalipun pada akhirnya cara ilmiah itu bisa juga dilaporkan dalam bentuk tulisan.
Tulisan adalah pesan. Maka semakin mudah pesan itu diterima pembaca, semakin bermanfaat tulisan tersebut.
Berbanding sebaliknya, jika pesan itu tidak mudah diterima oleh pembaca, maka tolonglah wahai penulis, jangan beranggapan bahwa tulisan itu keren. Penulis seperti itu tidak lain hanya membuat orang semakin kesulitan.
Sebetulnya, penulis seperti itu adalah orang yang tidak bisa membahasakan peristiwa dalam bentuk tulisan yang mudah dipahami. Tidak ada menulis itu hanya membuat orang sulit paham. Justru menulis untuk membuat orang mudah paham, terkecuali tulisan pada puisi.
Jika menulisnya dalam bahasa Indonesia, maka ada panduan di dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Susun kalimat dengan rumus SPOK. Semudah itu saja sebenarnya.
Dosen yang saya kenal di Universitas Muhammadiyah Malang, Nuruddin, sering sekali mengingatkan bahwa menulis bukan bakat. Ia lahir dari penempaan, pengalaman, pemikiran, dan percobaan yang berulang kali dilakukan.
Penulis yang baik, selalu ditempa terus menerus. Melakukannya berulang kali, gagal berulang kali, tidak pernah berhenti berpikir. Terus mencoba dan mencoba. Membaca sebanyak-banyaknya. Sampai akhirnya ia terbiasa menulis, ia pun menjadi penulis.
Oleh karena penulis itu bukan bakat alami, maka sebetulnya apa yang telah terlanjur terjadi dalam kebiasaan menulis jurnal ilmiah bisa diubah. Saya meyakini ada sejumlah akademisi yang mampu mengirim pesan itu mudah dipahami oleh pembaca. Sekalipun jumlahnya tidak banyak.
Produk akademik seperti jurnal ilmiah tentu saja memiliki kualitas yang bagus sebagai bahan referensi masyarakat. Saya membayangkan, apabila setiap keputusan yang hendak diambil oleh individu berdasarkan pengetahuannya membaca karya ilmiah, barangkali tidak akan terjadi salah pilih presiden dan wakilnya. Selanjutnya berakibat pada salah pilih menteri-menteri yang membantunya.
Namun kondisi terkini tidak seperti yang saya bayangkan. Jarak yang begitu jauh telah membuat masyarakat dan perguruan tinggi terpisah. Seperti jurang kekuasaan berbasis budaya feodal. Antara proletar dengan penguasa.
Maka sebetulnya jurnalisme sains dapat memperpendek jarak yang terlampau jauh tersebut. Jika diperlukan nantinya, betul-betul menyatu antara perguruan tinggi dengan masyarakat. Saling melengkapi.
Toh, banyak sekali penelitian itu diambil dari fenomena yang terjadi di tengah masyarakat. Maka tidak ada ruginya sepeser pun laporan ilmiah itu kembali ke masyarakat. Peran jurnalisme bisa menjembatani jarak itu.
Kemampuan jurnalis untuk memproduksi informasi yang mudah dipahami adalah nilai lebih dari profesi ini. Selama ini, mereka banyak melaporkan peristiwa sosial di tengah masyarakat.
Pesan tersebut bisa melalui teks, audio, atau bahkan visual. Produk karya ilmiah itu bisa menjadi bahan dasar pembuatan berita.
Berdasarkan hasil kajian ilmiah, jurnalis bisa melanjutkan menemui realitas sosial di lapangan. Itulah pekerjaan jurnalis untuk melakukan klarifikasi sekaligus konfirmasi di lapangan secara langsung. Lalu mempublikasikannya ke masyarakat.
Jika itu terjadi, sebuah karya ilmiah betul-betul mendapatkan validitasnya sebagai karya yang gemilang.
Dikonsumsi oleh publik, diperbincangkan di warung kopi hingga restoran khas Jepang. Dicermati pemangku kebijakan. Mungkin juga beberapa di antaranya disesali oleh pelaku kejahatan.
Jurnalisme sains menjadi wadah kolaborasi yang tepat antara jurnalis dan akademisi. Di tempat itu pula, keduanya saling belajar. Lifelong learning.
Jurnalis perlu tahu juga bagaimana cara-cara ilmiah bekerja untuk memastikan akurasi data dan informasi dalam laporan. Akademisi juga belajar bagaimana agar pesan yang disampaikan mudah dipahami oleh pembaca.
Kolaborasi mutualisme ini tidak hanya menguntungkan antara jurnalis dan akademisi, perusahaan media dan perguruan tinggi, namun juga berdampak kepada masyarakat. Itulah mengapa pepatah mengatakan, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.
Maka sejatinya pengabdian itu untuk melahirkan peradaban masyarakat yang semakin tahu dan paham. Membangun peradaban yang berdasarkan keilmuan, alih-alih termakan propaganda.(*)
Kota Malang, 10 Mei 2026



































