GENERASI, MALANG – Desa Wisata Poncokusumo berada di lokasi yang cukup strategis karena menopang akses ke wisata Gunung Bromo. Sebagai tempat penopang tujuan wisata nasional serta internasional, Desa Wisata Poncokusumo perlu memiliki kekhasan yang bisa menarik wisatawan datang.
Sejumlah akademisi bergelar doktor dari Universitas Brawijaya telah berkolaborasi dengan masyarakat sekitar. Mereka mengembangkan Kolak Goblok sebagai sajian kuliner pilihan untuk dibawa pulang. Selama ini, Kolak Goblok hanya sering disajikan di rumah-rumah warga. Melalui program doktor mengabdi, akademisi dan masyarakat menciptakan olahan serupa yang dapat dikemas untuk sajian wisatawan.
Kolak Goblok adalah olahan labu yang dilubangi tanpa dipecah. Kemudian dari lubang tersebut, diisi parutan kelapa, gula merah, serta garam. Setelah semuanya telah penuh, labu yang masih utuh itu dikukus hingga matang. Kuliner tradisional tersebut kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Kabupaten Malang, sekaligus menjadi ikon baru wisata kuliner Poncokusumo.
Program pengabdian ini diketuai oleh Desi Dwi Prianti bersama tim dari Pusat Studi Budaya dan Laman Batas Universitas Brawijaya (UB), bekerja sama dengan Pokdarwis Poncokusumo serta pelaku UMKM lokal. Kegiatan ini berlangsung di Ledok Ombo Campground, Poncokusumo, sejak awal November 2025. Dalam keterangannya, anggota program doktor mengabdi, I Wayan Suyadnya mengatakan bahwa selama ini potensi pangan lokal sering kalah pamor dibanding produk modern. Padahal dari segi rasa, nutrisi, dan keberlanjutan, pangan lokal memiliki nilai yang tinggi.
“Ini adalah harta karun yang kita miliki. Melalui pendampingan ini, kami ingin membangun ekosistem dari hulu ke hilir, mulai dari pengolahan hingga pemasaran,” ujar Wayan, Kamis (13/11/2025).
Desi menjelaskan, pendampingan dilakukan dalam dua tahap utama. Di tingkat hulu, masyarakat dilatih menggali kembali sejarah dan filosofi kuliner tradisional yang hampir punah. Sedangkan di tingkat hilir, tim memberikan pelatihan narasi kuliner dan fotografi gastronomi agar produk lokal dapat dipromosikan secara menarik kepada wisatawan.
Selain pelatihan visual dan branding, tim juga mengajarkan strategi pemasaran digital menggunakan media sosial dan e-commerce agar produk olahan pangan lokal memiliki jangkauan pasar lebih luas. Program ini diharapkan menjadi model pengembangan wisata kuliner berbasis kearifan lokal bagi desa-desa lain di Malang Raya. Revitalisasi pangan lokal bukan hanya upaya melestarikan budaya, tetapi juga strategi memperkuat ketahanan pangan.
“Cara ini juga dapat meningkatkan pendapatan warga, serta menciptakan identitas wisata yang berkelanjutan,” kata Wayan.
Sumanto, warga yang ikut serta dalam kegiatan tesebut berpendapat bahwa pangan lokal yang dikemas harus bisa menyasar pangsa pasar anak muda. Berdasarkan pengalamannya, anak-anak muda sekarang banyak yang tidak menyukai pangan lokal. Ia menyarankan, meskipun bahan yang dibuat berasal dari tanaman lokal, kemasan atau bentuknya bisa menyesuaikan kesenangan dari anak-anak muda.
“Anak saya itu sekarang tidak suka makan bothe atau talas ubi. Tapi kalau misal dikemas dengan bentuk yang berbeda, bisa ada ketertarikan di sana,” ungkapnya.
Menurut Sumanto, program doktor mengabdi sangat bagus. Penerapannya yang menyasar kelompok masyarakat akar rumput dinilainya tepat sasaran. Bagi Sumanto, program tersebut harus berkelanjutan, tidak sekadar selesai dalam sekali kegiatan saja.
“Harus ada pendampingann hingga sukses. Misal didampingi sampai lima tahun. kalau hanya datang, ikut kegiatan, pulang bawa uang saku saja ya kurang berdampak,” ujarnya.
Sumanto juga menyarankan perlunya edukasi teknologi kepada masyarakat. Saat ini, teknologi telah membantu pemasaran produk yang lebih luas dan tepat sasaran. Namun kemampuan tersebut masih belum banyak dimiliki oleh masyarakat lokal.
“Sehingga memang perlu ada pendampingan yang berkelanjutan, terutama tentang bagaimana memanfaatkan teknologi. Perlu ada ahli informasi teknologi agar bisa mendampingi memasarkan produk,” papar pria yang memiliki usaha budidaya jamur tersebut. (RSK)
































