GENERASI, MALANG – Bagi sebagian orang, matematika mungkin menjadi pelajaran yang paling menakutkan. Angka, rumus, dan soal-soalnya sering sekali membingungkan. Namun sejatinya, belajar matematika tidak persoalan angka, namun membangun logika berpikir.
Banyak metode pembelajaran yang tidak mengungkap sisi ini. Alih-alih menjelaskan di awal kepada peserta didik bahwa mereka sangat membutuhkan logika berpikir, yang terjadi justru doktrin bahwa matematika tentang perhitungan angka dan rumus yang menyertainya.
Mungkin juga sebagian orang memiliki pengalaman sekolah yang diskriminatif, di mana ketika ada seorang siswa pandai mengerjakan soal matematika, ia sudah dianggap yang paling pintar di kelas. Sekalipun pelajaran lainnya tidak menghasilkan nilai yang menyenangkan.
Sementara murid lainnya yang pandai pelajaran sosial, seni, atau kesehatan tidak dilihat sebagai siswa yang pandai. Siswa yang pandai hanyalah siswa yang berhasil memecahkan soal matematika. Padahal, kapasitas setiap peserta didik itu unik.
Mereka datang dari latar belakang pengalaman hidup yang berbeda-beda. Kepandaian mereka adalah kepandaian dari pengalaman hidup. Baik itu dari membaca, mengerjakan tugas di rumah, atau sekadar bermain dengan teman-teman.
Dian Maharani, dosen matematika di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, berpendapat bahwa orang yang pandai matematika sama halnya dengan orang yang pandai ilmu seni, sastra, sosial atau keilmuan lainnya.
Menurut Dian, persoalan terbesar banyak orang menjadi takut belajar matematika bukanlah soal angka yang rumit, melainkan cara memandang dan metode belajarnya.
Dalam episode Semester Pendek kali ini, kita akan belajar bersama memahami bagaimana pengajar matematika melihat fenomena di tengah masyarakat tersebut.
“Orang sering bertanya, kapan sih Teorema Pythagoras dipakai dalam kehidupan sehari-hari? Saat belanja tidak dipakai, saat masak juga tidak dipakai. Akhirnya orang menganggap matematika tidak penting,” ujar Dian.
Padahal menurutnya, matematika hadir hampir di setiap aktivitas manusia. Ketika seseorang memesan makanan secara daring, menghitung ongkos perjalanan, membayar tagihan, hingga mengukur ketepatan sebuah desain bangunan, matematika bekerja di belakang layar. Namun lebih dari itu, matematika sebenarnya adalah latihan berpikir logis.
Dian memberikan contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan anak muda. Misalnya ketika ada orang sedang menjalin hubungan. Satu di antara mereka lama membalas pesan dari pasangannya.
“Kalau tidak memakai logika mungkin kita akan terus berpikir positif bahwa dia sibuk. Padahal kalau dianalisis pola dan faktanya, bisa muncul kesimpulan lain yang lebih rasional,” katanya sambil tersenyum.
Dalam matematika, kemampuan seperti itu diajarkan melalui konsep logika, implikasi, konjungsi, dan disjungsi. Seseorang dilatih menyusun fakta dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti yang tersedia. Sayangnya, wajah matematika yang demikian sering kali tidak sampai kepada siswa.
Dian menilai banyak anak Indonesia berkenalan dengan matematika melalui pengalaman yang tidak menyenangkan. Sejak kecil mereka dipaksa menghafal angka dan rumus tanpa memahami maknanya. Lebih buruk lagi, sebagian tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang menjadikan matematika sebagai alat ancaman.
“Belajar matematika itu sering kali dikaitkan dengan ketakutan. Kalau tidak bisa, dimarahi. Kalau nilainya jelek, dihukum. Akhirnya anak mengasosiasikan matematika sebagai sesuatu yang menakutkan,” ujarnya.
Di sekolah, kondisi itu kadang diperparah oleh metode pembelajaran yang monoton. Guru datang ke kelas, memberikan lembar kerja siswa, lalu meminta murid mengerjakan sendiri. Lama-kelamaan matematika berubah menjadi momok yang ingin dihindari.
Pengalaman tersebut justru membuat Dian memilih pendekatan berbeda ketika mengajar. Ia teringat pernah mendampingi seorang siswa SD yang sangat hiperaktif. Sebelum belajar, anak itu beraktivitas berlebihan. Namun Dian tidak mempersoalkan hal tersebut. Ia bahkan menyadari bahwa anak itu bisa fokus setelah melakukan banyak hal.
“Kalau tidak begitu, dia tidak bisa fokus,” katanya.
Ada pula siswa lain yang sangat visual. Untuk menjelaskan konsep matematika, Dian harus menggunakan cerita dan gambar. Kadang matematika dijelaskan melalui aktivitas melukis, menggambar, bahkan bermain. Maka dari pengalaman itu, menurutnya, setiap anak memiliki pintu masuk yang berbeda untuk memahami ilmu pengetahuan.
“Tugas guru itu mencari celah. Apa yang membuat anak tertarik. Itu yang sulit sekaligus menarik dalam mengajar,” ujarnya.
Karena itulah ia meyakini pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Peran orang tua, menurut Dian, justru sangat menentukan. Berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa orang tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak.
Ketika orang tua menemani, memberi perhatian, dan menunjukkan kasih sayang saat proses belajar berlangsung, motivasi anak tumbuh secara alami. Sebaliknya, jika seluruh urusan pendidikan diserahkan kepada sekolah, perkembangan anak menjadi sangat bergantung pada faktor kebetulan.
“Kalau orang tuanya hadir, biasanya semangat belajar anak jauh lebih kuat,” katanya.
Di tengah berbagai tantangan itu, Indonesia menghadapi persoalan yang lebih besar lagi. Data Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan kemampuan literasi dan numerasi pelajar Indonesia masih tertinggal dibanding banyak negara lain.
Menurut Dian, salah satu penyebabnya adalah perubahan lingkungan belajar yang sangat cepat. Gawai dan media sosial kini menjadi kompetitor utama sekolah.
Guru boleh saja mengajarkan soal-soal berbasis logika tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS), tetapi materi tersebut sulit diserap jika siswa kehilangan kemampuan berkonsentrasi.
“Anak sekarang menghadapi distraksi yang luar biasa besar. Konsentrasinya terpecah ke mana-mana,” ujarnya.
Persoalan Sistem Pendidikan
Persoalan lain muncul dari sistem pendidikan itu sendiri. Dian melihat ada kecenderungan siswa terus naik kelas meski kemampuan dasarnya belum benar-benar kuat.
Guru pun berada dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi mereka dituntut meningkatkan kualitas pembelajaran. Di sisi lain, tindakan tegas sering kali berujung pada komplain bahkan persoalan hukum. Akibatnya, sebagian guru memilih jalan aman. Dampaknya terasa hingga perguruan tinggi.
“Saya pernah menemui mahasiswa semester akhir jurusan matematika yang tidak tahu hasil perkalian nol dengan sebuah bilangan,” katanya.
Bagi Dian, fakta tersebut bukan sekadar persoalan individu, melainkan alarm bagi dunia pendidikan. Sebab beberapa tahun ke depan, mahasiswa-mahasiswa itu berpotensi menjadi guru dan pendidik bagi generasi berikutnya. Meski demikian, ia tetap optimistis.
Menurutnya, pendidikan Indonesia perlahan bergerak ke arah yang lebih baik. Metode hafalan dan ancaman mulai ditinggalkan. Kini semakin banyak guru yang menggunakan permainan, lagu, cerita, eksperimen, dan pendekatan sesuai karakter belajar anak.
“Pendidikan sekarang jauh lebih humanis dibanding dulu,” ujarnya.
Bagi Dian, masa depan literasi dan numerasi Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa cepat anak menghafal rumus. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka belajar berpikir, menganalisis, dan memahami dunia secara logis. Karena pada akhirnya, matematika bukan hanya soal angka. Matematika adalah cara manusia memahami kehidupan.
Penulis : Budi Akbar
Editor : Artika Rachmi Farmita


























