GENERASI, MALANG
Sahabat, Gen! Dewasa ini, orang banyak mengenal nama Kerajaan Singhasari daripada Kerajaan Tumapel. Hal itu menjadi lumrah karena sudah berkembang di tengah masyarakat. Terlebih, terdapat nama Candi Singhasari dan Kecamatan Singosari di Kabupaten Malang.
Namun, seorang sejarawan dari Universitas Negeri Malang, Ismail Lutfi memiliki argumen yang berbeda. Nah, argumen ini bisa jadi membuat Sahabat Gen mengubah persepsi tentang nama Singhasari dan Tumapel.
Lutfi lebih meyakini bahwa nama kerajaan yang benar adalah Tumapel, bukan Singhasari. Argumen ini didasari dari bukti-bukti sejarah yang ia pelajari dan kaji. 30 tahun lebih dedikasinya terhadap keilmuan sejarah mendorong keyakinan penuh atas nama Kerajaan Tumapel.
Lutfi menyambut kolaborasi kami untuk berbagi ilmu dalam tayangan Semester Pendek. Pengambilan video dilakukan di Candi Singhasari. Dengan latar belakang Candi Singhasari, panas yang tak terlalu terik, dipadu sepoi angin yang menyegarkan, Lutfi menjelaskan panjang lebar mengapa penamaan Kerajaan Tumapel lebih tepat dibanding Singhasari.
Lutfi yang memiliki spesialisasi pada sejarah kuno dan bidang epigrafi, kajian tentang tulisan kuno pada prasasti, mengajak kita berubah. Bahwa sebutan yang tepat adalah Kerajaan Tumapel (‘e’ pepet), bukan Singhasari.
“Ini hal yang menarik, kalau mengikuti buku pelajaran, memang namanya Singhasari. Namun kalau dari kacamata ilmu sejarah, harus kembali pada bukti sejarah,” kata Lutfi.
Diterangkan oleh Lutfi, dari bukti sejarah primer dan sekunder, tidak pernah disebutkan adanya nama Kerajaan Singhasari. Sebaliknya, yang disebut adalah Kerajaan Tumapel.
Keterangan primer bersumber dari Prasasti Mula Malurung (1255 M) dan Prasasti Kudadu (1293 M). Pada isi Prasasti Mula Malurung, dijelaskan adapun garis keturunan raja berasal dari penguasa terdahulu, dimulai dari Ken Angrok yang berkuasa di Tumapel, kemudian dilanjutkan oleh Anusapati, kemudian Tohjaya, dan selanjutnya oleh Sri Wisnuwardhana.
Pada Prasasti Kadudu, dijelaskan pada masa terjadi kekacauan dan serangan musuh oleh Jayakatwang, sang raja melarikan diri dari pusat kekuasaan di Tumapel. Kedua prasasti tersebut tidak secara eksplisit menyebut Singhasari sebagai nama kerajaan. Justru yang muncul dan lebih dominan adalah Tumapel sebagai basis kekuasaan.
Sedangkan keterangan sekunder berasal dari Serat Pararaton. Salah satu kutipan dalam Serat Pararaton itu seperti ini:
“Tak lama sesudah itu Ken Angrok direstui menjadi raja di Tumapel, negaranya bernama Singasari, nama nobatannya Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi, disaksikan oleh para bujangga pemeluk agama Siwa dan Budha yang berasal dari Daha, terutama Dang Hyang Lohgawe,” (Serat Pararaton, Hal: 21).
Dokumen tersebut bisa diakses di sini! (bikin link untuk bisa unduh dokumennya)
“Sampai hari ini tidak ada satupun bukti sejarah primer yang menyebut Kerajaan Singhasari. Pejabat yang berkuasa di situ, saat masa Majapahit, selalu menyebut batara ring Tumapel,” ujar Lutfi.
Dalam bahasa Indonesia, batara ring Tumapel diterjemahkan menjadi Sang Dewa dari Tumapel atau Raja dari Tumapel. Penyebutan Tumapel di Prasasti Mula Malurung dan Kadudu juga tertulis di Serat Pararaton. Di sana disebutkan tempat yang disebut Tumapel.
“Jadi ini nyambung antara prasasti dan Pararaton,” tegas Lutfi.
Kisah Kerajaan Tumapel juga ditulis pada masa Majapahit yakni dalam Kakawin (syair) Desyawarnana atau Kakawin Nagarakretagama. Kakawin Desyawarnana dibuat oleh Dang Acarya Nadendra dengan nama pena Mpu Prapanca pada 1365 masehi. Tahun saat Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Raja Hayam Wuruk.
Kakawin Desyawarnana adalah sebuah karya sastra. Dokumen ini menjadi sumber lain atas keberadaan Kerajaan Tumapel.
Di dalam salah satu pupuh atau tembang, semisal pada Pupuh 35, Nyanyian ke-1. Di sana diceritakan perjalanan Hayam Wuruk yang menuju Kota Singhasari. Begini lebih tepat bahasanya: Sampai Pasuruan menyimpang jalan ke selatan menuju Kepanjangan. Menganut jalan raya, kereta lari beriring-iring ke Andoh Wawang. Ke Kedung Peluk dan Ke Hambal, desa penghabisan dalam ingatan. Segera Baginda menuju Kota Singasari bermalam di balai kota.
Pada Pupuh 41, Nyanyian ke-4, dijelaskan di antara wilayah-wilayah yang berada dalam kekuasaan Majapahit, disebutkan: narendra Krtanagarakeń abhiseka nāma ri siran huwus prakaśita, pradeśa kuțaraja mańkin atiśobhitańaran i Sińhasāri nagara.
Kalimat tersebut memiliki arti harfiah: Baginda Kertanegara nama gelarnya, termasyhur di mana-mana, wilayah Kutaraja kian lama kian bagus, kemudian dikenal sebagai Kota Singhasari.
Kakawin Desyawarnana menjelaskan bahwa Singhasari sebagai pusat kekuasaan yang sudah mapan. Sebagai sebuah kota. Pusat peradaban Kerajaan Tumapel.
Lutfi menjelaskan lebih jauh, bahwa sebelum bernama Singhasari, namanya adalah Kutaraja. Kutaraja adalah istilah umum yang disebut masyarakat saat itu sebagai pusat kota atau ibu kota kerajaan. Keterangan ini semakin menegaskan bahwa Singhasari adalah nama kota.
“Bahwa ibu kota Tumapel, awalnya adalah Kutaraja, namun kemudian dikenal Singhasari. Dari kajian kebahasaan, didapatkan informasi yang jelas bahwa Singhasari itu nama baru bagi ibu kota Kerajaan Tumapel. Semula Kutaraja menjadi Singhasari,” urainya.
Tempat yang sama, kemudian diberi julukan yang berbeda. Seperti DKI Jakarta memiliki banyak nama sebelumnya yakni Sunda Kelapa (abad ke-14), Jayakarta (1527), Batavia (1619), Jakarta (1942), terakhir DKI Jakarta (1945 hingga sekarang).
Menurut Lutfi, perlu dijelaskan juga ke khalayak mengapa muncul nama Singhasari. Menurutnya, penyebutan nama Kerajaan Singhasari datang dari buku-buku sejarah yang diajarkan di dalam kelas.
“Sebenarnya kalau sisi edukasi ke masyarakat, ada kewajiban kita untuk meluruskan karena punya dasar yang kuat. Sudah ada penyebutan toponimi Tumapel, ketika memaksakan istilah lain, maka itu adalah sebuah cara yang salah,” tegasnya.
Pasalnya, Singhasari bukan nama lain dari Tumapel, tapi nama lain dari Kutaraja. Secara akademik, Lutfi mengajak masyarakat yang memiliki ketertarikan pada sejarah berkampanye kepada siapapun, atas penyebutan nama yang benar, yakni Kerajaan Tumapel.
Lutfi berpendapat, dalam keyakinannya, sumber primer dari prasasti lebih kuat daripada sumber sekunder yang berasal dari karya sastra. Apalagi karya sastra itu dibuat setelah berabad-abad kerajaan Tumapel berakhir.
Kerajaan Tumapel berakhir pada 1292 masehi. Kakawin Desyawarnana dibuat pada 1365 masehi. Sedangkan Serat Pararaton dibuat pada abad ke-15. Tidak ada keterangan jelas tahun pembuatan Serat Pararaton. Beberapa sumber menjelaskan antara tahun 1470 masehi hingga 1500 masehi.
Nah, Sahabat Gen, secara kronologis semakin bisa diterima, bahwa Singhasari adalah nama ibu kota dari Kerajaan Tumapel.
Sebenarnya kita harus mengakui, sepanjang berpihak kepada kebenaran ilmiah, bahwa sejarah itu berdasarkan bukti. Kita kembalikan ke bukti yang ada. Dalam buku teks pelajaran, secara hormat Lutfi menyarankan adanya revisi.
“Kita tidak layak memberikan informasi kepada peserta didik dengan informasi yang sebenarnya tidak sesuai. Kalaupun mempertahankan kata Singhasari, boleh saja, namun harus ada tambahan keterangan, bahwa itu bukan nama kerajaan, namun nama ibu kota dari Kerajaan Tumapel. Secara edukatif, kita punya tanggung jawab ke sana,” imbaunya.
Sekian dulu cerita kami di episode pertama tentang nama Kerajaan Tumapel. Pada episode selanjutnya, kita akan berdiskusi lebih jauh: apakah nama Singhasari di buku pelajaran sekolah dipengaruhi oleh kolonialisme?
Sahabat Gen bisa menyimaknya pada edisi kedua terbitan liputan ini.
























