GENERASI, MALANG – Berjumpa kembali di bagian kedua pembahasan tentang melemahnya Rupiah!
Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat secara tidak langsung dirasakan masyarakat di dalam dapur mereka, loh. Harga kebutuhan pokok naik. Beras naik, minyak goreng naik, gas naik. Apa pun menjadi naik.
Jadi, bukan hanya pengusaha besar atau pelaku pasar modal saja yang terdampak, tetapi juga bapak-bapak penjual bakso hingga ibu-ibu penjual sayur di pasar tradisional.
Kandidat doktor ilmu ekonomi sekaligus dosen ekonomi Mochamad Rofik menilai kondisi pelemahan Rupiah saat ini memiliki dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat akar rumput. Menurutnya, naiknya Dollar telah memicu kenaikan harga berbagai kebutuhan sehari-hari karena Indonesia masih bergantung pada barang impor dan produk turunan minyak bumi.
“Yang paling dekat itu sebenarnya masyarakat kecil. Bapak-bapak penjual bakso, ibu-ibu penjual sayur, mereka yang paling terasa dampaknya,” ujar Rofik.
Ia menjelaskan, ketika Rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat. Dampaknya kemudian merembet ke berbagai sektor, mulai dari bahan bakar minyak, gas LPG 3 kilogram, hingga harga plastik kemasan yang biasa dipakai pedagang kecil sehari-hari.
“BBM bisa naik, LPG naik, harga plastik melonjak. Bahkan plastik bisa naik hampir 50 persen. Itu semua dekat sekali dengan kehidupan masyarakat,” katanya.
Bagi penjual bakso keliling misalnya, kondisi itu berarti biaya produksi ikut membengkak. Harga gas naik, bahan baku seperti mi instan, daging, hingga cabai ikut terdorong naik. Sementara di sisi lain, mereka tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual.
Sebab ketika harga bakso dinaikkan, belum tentu pembeli mampu membeli seperti biasanya.
“Kalau kita jual lebih mahal, belum tentu masyarakat bisa beli. Itu dilema masyarakat kecil sekarang,” ujar Rofik.
Hal serupa juga dialami ibu-ibu penjual sayur di pasar tradisional. Kenaikan biaya distribusi dan harga bahan bakar membuat harga sayuran perlahan ikut naik. Pedagang kecil harus memutar otak agar dagangan tetap laku di tengah daya beli masyarakat yang mulai melemah.
Menurut Rofik, pelemahan Rupiah saat ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi global dan persoalan domestik Indonesia sendiri. Dari faktor eksternal, ketidakpastian ekonomi dunia hingga kebijakan suku bunga Amerika Serikat ikut memengaruhi arus modal ke negara berkembang seperti Indonesia.
Ia mencontohkan, apabila suku bunga Amerika Serikat turun dan kondisi geopolitik global membaik, modal asing berpotensi kembali masuk ke Indonesia. Namun kondisi itu berada di luar kendali pemerintah Indonesia.
Karena itu, menurutnya langkah yang paling realistis adalah memperkuat kondisi ekonomi dari dalam negeri. Salah satunya dengan memperbaiki kebijakan fiskal dan menciptakan program pembangunan yang mampu meningkatkan kepercayaan investor.
“Investor akan melihat apakah Indonesia punya prospek ekonomi yang bagus atau tidak. Kalau percaya, mereka akan kembali masuk lewat investasi maupun pasar modal,” katanya.
Rofik menyebut angka Rp16.000,00 per Dollar AS menjadi batas psikologis yang dianggap pasar sebagai nilai wajar Rupiah saat ini. Rupiah telah menyentuh di angka Rp17.600,00 per 24 Mei 2026. Pada 4 Juni 2026, Rupiah telah menyentuh angka Rp18.020,00. Ketika Rupiah terus melemah, perlahan tekanan terhadap ekonomi masyarakat mulai semakin terasa.
Meski begitu, ia menilai Indonesia masih memiliki kekuatan besar dari sisi konsumsi domestik. Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa, konsumsi masyarakat dinilai menjadi bantalan utama perekonomian nasional.
“Sebenarnya ekonomi Indonesia kuat karena konsumsi domestik yang tinggi. Selama konsumsi masyarakat bisa dijaga, kita masih punya kekuatan,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan pemerintah agar lebih hati-hati dalam mengelola anggaran negara di tengah tekanan Rupiah dan meningkatnya kebutuhan impor energi maupun bahan baku industri. Menurutnya, kebijakan yang tidak memiliki efek pengganda ekonomi tinggi perlu dievaluasi ulang agar kepercayaan pasar kembali pulih.
Selain itu, Rofik juga meminta masyarakat lebih bijak mengatur pengeluaran selama kondisi ekonomi belum stabil. Ia menyarankan masyarakat menunda belanja yang tidak mendesak dan tidak ikut berspekulasi membeli Dollar AS.
“Kalau memang bukan kebutuhan pokok dan masih bisa ditunda, lebih baik ditunda dulu,” katanya.
Fenomena dampak pelemahan mata uang terhadap masyarakat kecil sebenarnya telah banyak dibahas dalam berbagai jurnal ilmiah internasional. Sejumlah penelitian menunjukkan depresiasi nilai tukar dapat meningkatkan inflasi domestik dan memperburuk kondisi kelompok berpenghasilan rendah.
Laporan jurnal ilmiah berjudul Exchange Rate Pass-Through to Domestic Prices: Does the Inflationary Environment Matter? yang ditulis oleh Ehsan U. Choudhri & Dalia S. Hakura di Journal of International Money and Finance menemukan bahwa depresiasi nilai tukar memiliki efek langsung terhadap kenaikan harga domestik, terutama pada negara berkembang yang bergantung pada impor bahan baku dan energi.
Penelitian ini menjadi salah satu rujukan penting dalam ekonomi internasional karena menjelaskan bagaimana pelemahan nilai tukar mata uang dapat langsung memicu kenaikan harga barang di dalam negeri, terutama di negara berkembang yang masih bergantung pada impor energi, bahan baku, dan barang industri.
Secara sederhana, penelitian ini menjelaskan bahwa ketika mata uang domestik melemah terhadap Dollar AS, biaya impor menjadi lebih mahal. Kenaikan biaya impor itu kemudian diteruskan ke harga barang di pasar domestik. Dalam ekonomi, proses ini disebut exchange rate pass-throughatau transmisi pelemahan kurs terhadap harga domestik.
Metode penelitian yang digunakan adalah analisis ekonometrika lintas negara (cross-country econometric analysis). Peneliti menggunakan database besar yang mencakup data 71 negara selama periode 1979–2000. Mereka membandingkan hubungan antara perubahan nilai tukar dengan tingkat inflasi domestik di berbagai negara dan rezim ekonomi yang berbeda.
Dalam modelnya, penulis yakni Choudhri dan Hakura menggunakan pendekatan new open economy macroeconomics. Mereka meneliti bagaimana perubahan kurs memengaruhi harga barang melalui ekspektasi inflasi, biaya produksi, dan perilaku perusahaan dalam menentukan harga jual.
Hasil utama penelitian itu menemukan bahwa negara dengan tingkat inflasi tinggi cenderung mengalami dampak pelemahan mata uang yang lebih besar terhadap harga domestik. Artinya, ketika mata uang melemah, harga-harga barang di negara tersebut lebih cepat naik dibanding negara dengan inflasi rendah dan kebijakan moneter yang stabil.
Penelitian itu juga menemukan bahwa pelemahan kurs sangat berpengaruh pada negara berkembang karena banyak sektor ekonominya masih bergantung pada barang impor. Ketika Dollar menguat, biaya produksi ikut naik karena bahan baku, energi, dan barang industri menjadi lebih mahal. Beban itu akhirnya diteruskan ke masyarakat melalui kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
Dalam praktiknya, kondisi tersebut bisa dilihat pada pedagang kecil. Misalnya penjual bakso yang harus membeli gas LPG, mi instan, atau plastik dengan harga lebih mahal. Atau ibu-ibu penjual sayur yang harus membayar ongkos distribusi lebih tinggi karena harga BBM naik. Ketika biaya naik, mereka terpaksa menaikkan harga jual, tetapi daya beli masyarakat belum tentu ikut naik.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa lingkungan inflasi rendah dan kebijakan moneter yang kredibel dapat mengurangi dampak pelemahan mata uang terhadap harga domestik. Dengan kata lain, jika pemerintah mampu menjaga inflasi tetap rendah dan stabil, maka efek pelemahan kurs terhadap masyarakat bisa lebih terkendali.
Selain itu, penelitian tersebut menjadi dasar bagi banyak studi lanjutan mengenai dampak depresiasi mata uang di negara berkembang, termasuk kaitannya dengan kemiskinan, inflasi pangan, dan tekanan terhadap usaha mikro kecil.
Beberapa penelitian lanjutan bahkan menunjukkan bahwa dampak depresiasi mata uang paling berat justru dirasakan kelompok masyarakat berpendapatan rendah karena sebagian besar pengeluaran mereka digunakan untuk kebutuhan pokok. Ketika harga pangan, energi, dan transportasi naik, kelompok inilah yang paling rentan terdampak.
Kajian lain dalam jurnal Development Economics World Development menjelaskan bahwa pelemahan mata uang memperbesar kerentanan rumah tangga miskin karena harga kebutuhan pokok naik lebih cepat dibanding pendapatan masyarakat kecil.
Kajian tersebut membahas bagaimana depresiasi nilai tukar dapat memperburuk kondisi rumah tangga miskin karena kenaikan harga kebutuhan pokok berlangsung lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan masyarakat kecil. Temuan itu banyak digunakan untuk menjelaskan mengapa gejolak kurs paling berat dirasakan kelompok berpenghasilan rendah.
Salah satu penelitian yang relevan ialah studi tentang hubungan nilai tukar riil (real exchange rate) dan kemiskinan berjudul “Real Exchange Rate Undervaluation and Poverty”. Penelitian ini berkembang dari diskursus pembangunan ekonomi di negara berkembang dan banyak dikaitkan dengan kebijakan penyesuaian struktural IMF serta depresiasi mata uang di negara-negara emerging markets.
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa depresiasi mata uang memang dalam beberapa kondisi bisa membantu ekspor dan pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain, pelemahan mata uang juga meningkatkan harga barang impor, energi, bahan pangan, dan kebutuhan produksi. Beban terbesar akhirnya jatuh kepada rumah tangga miskin yang sebagian besar penghasilannya habis untuk konsumsi harian.
Metode penelitian yang digunakan dalam kajian tersebut adalah analisis panel lintas negara (cross-country panel analysis). Peneliti menggunakan data negara berkembang dan emerging marketsdalam periode panjang, lalu menghubungkan perubahan nilai tukar dengan indikator kemiskinan, konsumsi rumah tangga, serta belanja pemerintah.
Dalam pendekatannya, penelitian itu memakai model ekonometrika seperti Bayesian Vector Autoregression (BVAR) dan Generalized Method of Moments (GMM) untuk melihat dampak depresiasi mata uang terhadap pengeluaran fiskal dan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan tersebut dipakai karena mampu menangkap hubungan jangka pendek dan jangka panjang antar variabel ekonomi makro.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ketika mata uang melemah, biaya hidup masyarakat meningkat akibat inflasi impor (imported inflation). Barang-barang yang bergantung pada bahan baku impor menjadi lebih mahal, mulai dari bahan pangan, energi, hingga barang konsumsi sehari-hari.
Penelitian itu juga menemukan bahwa kelompok miskin menjadi pihak paling rentan karena mereka memiliki ruang keuangan yang sangat terbatas. Ketika harga pangan atau energi naik sedikit saja, kemampuan konsumsi rumah tangga langsung turun. Akibatnya, kualitas hidup dan daya beli masyarakat kecil ikut melemah.
Secara statistik, penelitian itu menemukan bahwa kenaikan 1 persen nilai tukar dapat menurunkan konsumsi rumah tangga sekitar 0,5 persen dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, dampaknya bahkan lebih besar terhadap kesejahteraan masyarakat.
Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa depresiasi mata uang bukan sekadar isu kurs di pasar keuangan, tetapi berpengaruh langsung terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat kecil.
Di tengah situasi itu, pelemahan Rupiah kini bukan lagi sekadar angka kurs di layar monitor ekonomi. Bagi masyarakat kecil, ia menjelma menjadi harga gas yang naik, plastik pembungkus yang makin mahal, hingga pertanyaan sederhana yang mengkhawatirkan: apakah hasil dagangan/pekerjaan hari ini masih cukup untuk dibawa pulang menjadi uang belanja keluarga?
Penulis : Budi Akbar
Editor : Artika Rachmi Farmita





























