GENERASI/MALANG – Bulan Kemerdekaan di Indonesia selalu identik dengan perlombaan. Nah, ada satu perlombaan yang tidak boleh absen dari kemeriahan kemerdekaan itu. Tarik tambang!
Setiap kali perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia tiba, riuh sorak penonton selalu pecah di depan lapangan rumput atau jalanan desa. Dua tim berdiri berhadapan, memegang erat seutas tali tambang tebal, lalu saling tarik dengan urat leher tertarik dan wajah memerah. Tarik tambang sudah menjadi “menu wajib” lomba 17 Agustus yang tidak pernah absen menghibur masyarakat.
Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya: Apakah tradisi tarik tambang ini asli dari Indonesia, atau justru warisan era kolonial?
Meski sangat merakyat di Indonesia, tarik tambang sebenarnya bukanlah permainan asli Nusantara. Rekam jejak sejarah menunjukkan bahwa aksi adu kekuatan tali ini telah ada sejak ribuan tahun lalu di berbagai peradaban kuno, seperti Mesir, Tiongkok, hingga Yunani.
Kala itu, tarik tambang bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari latihan militer prajurit, upacara keagamaan, hingga simbol pertarungan kekuatan alam.
Menariknya lagi, tarik tambang ternyata pernah diakui sebagai cabang olahraga resmi di Olimpiade Musim Panas pada rentang tahun 1900 hingga 1920. Inggris menjadi negara yang mendapat medali terbanyak dari cabang olahraga tarik tambang.
Pada masa itu, permainan ini memiliki aturan ketat di bawah pengawasan federasi olahraga internasional sebelum akhirnya dihapus dari ajang Olimpiade. Perlombaan tarik tambang sering menimbulkan protes.
Komite akhirnya menghapus cabang olahraga tarik tambang dari daftar bersamaan dengan adanya perampingan jumlah cabang olahraga yang dilombakan.
Masuknya Tarik Tambang ke Nusantara
Tradisi tarik tambang diperkirakan mulai masuk ke Indonesia pada masa penjajahan Belanda dan semakin populer saat pendudukan Jepang. Kala itu, para pekerja paksa (romusha) sering memanfaatkan seutas tali tambang untuk mengisi waktu luang atau sebagai ajang adu ketangkasan fisik di tengah kerja keras mereka.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat Indonesia mengadopsi permainan ini dan mengubahnya menjadi simbol perlawanan serta ajang kebersamaan. Setelah Indonesia merdeka, tarik tambang resmi diserap menjadi bagian dari lomba rekreasi rakyat untuk memperingati kemerdekaan setiap tanggal 17 Agustus.
Sains di Balik Tarik Tambang
Secara teknis, tarik tambang sering dianggap sebagai perlombaan otot murni. Namun, kajian ilmiah menunjukkan adanya aspek fisika dan matematis yang bekerja di baliknya. Kemenangan dalam tarik tambang tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar gaya tarik (gaya otot) yang dikeluarkan sebuah tim, tetapi juga bergantung pada:
– Gaya Gesek: Ketahanan pijakan kaki peserta terhadap tanah atau rumput menjadi penentu utama agar tubuh tidak mudah terseret ke depan.
– Sudut Kemiringan Tubuh: Posisi tubuh yang sedikit condong ke belakang memanfaatkan gaya berat badan untuk memaksimalkan vektor gaya tarik.
– Sinkronisasi dan Strategi: Tarikan yang dilakukan secara serentak (konstan) menghasilkan total gaya kolektif yang jauh lebih besar daripada tarikan kuat yang dilakukan sendiri-sendiri secara terpisah.
Merawat Tradisi Lewat Tali
Perjalanan panjang tarik tambang memperlihatkan bagaimana sebuah latihan fisik kuno dan cabang olahraga dunia berevolusi menjadi warisan budaya rekreasi yang begitu dekat dengan hati masyarakat Indonesia.
Lebih dari sekadar memperebutkan hadiah lomba 17-an, tiap helaian tali tambang yang ditarik bersama selalu berhasil mempererat rasa persaudaraan dan kebersamaan warga.
Penulis : Siti Khadijah
Editor : Artika Rachmi Farmita
Referensi:
CNN Indonesia (2022). Sejarah Tarik Tambang, Olahraga yang Dilombakan Setiap 17 Agustus.
Detik Jogja (2024). Sejarah Lomba Tarik Tambang 17 Agustus, Benarkah Asli dari Indonesia?.
Santoso, D. A., & Setiabudi, M. A. (2020). Analisis matematis fenomena fisik permainan tarik tambang. Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi, 6(2), 138-145.
Ilustrasi gambar telur dibuat oleh akal imitasi. GENERASI/MALANG - Pernahkah kamu mendengar celetukan bahwa sering…
Gambar dibuat dengan akal imitasi dengan tujuan memberi ilustrasi kegiatan sound horeg. GENERASI/MALANG - Belakangan…
GENERASI, MALANG – Kampanye feminisme hari-hari ini mungkin lebih sering terdengar publik. Media massa pun…
https://youtu.be/gII3u4TyIv8 GENERASI, MALANG - Mengapa nama Singhasari lebih populer dikenal sebagai kerajaan dibanding Tumapel? Jawabannya,…
https://youtu.be/rNxIMSZ0D_k GENERASI, MALANG - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi primadona kampanye Prabowo Subianto-Gibran…
https://youtu.be/31CpTYIzztM GENERASI, MALANG - Di tengah derasnya penggunaan media sosial, kemampuan berbahasa Inggris kini bukan…