Categories: Warta

Mitos Telur dan Kebenaran di Baliknya

Ilustrasi gambar telur dibuat oleh akal imitasi.

GENERASI/MALANG – Pernahkah kamu mendengar celetukan bahwa sering makan telur bisa membahayakan kesehatan? Padahal, telur adalah salah satu bahan makanan paling “penyelamat” di dapur kita. Harganya terjangkau, praktis diolah, dan rasanya enak dipadukan dengan apa saja.

Namun, belakangan ini telur sering kali disudutkan dan dijadikan “tersangka” dalam isu kesehatan, terutama terkait kolesterol. Pernah tidak, setelah makan telur saat sarapan, makan siang, hingga makan malam, kamu tiba-tiba membatin: “Duh, aman nggak ya makan telur setiap hari? Kolesterolku bakal melonjak nggak, ya? Jangan-jangan habis ini malah bisulan atau jerawatan?”

Sebelum kamu terburu-buru mencoret telur dari menu harianmu, mari kita bedah beberapa mitos populer seputar telur berdasarkan bukti ilmiah!

Beberapa Mitos Seputar Telur

1. “Jangan Sering Makan Kuning Telur, Nanti Kolesterol Tinggi!”

Kamu pasti sering mendengar wanti-wanti ini. Memang benar bahwa kuning telur mengandung kolesterol makanan (dietary cholesterol). Namun, bagi mayoritas orang sehat, kolesterol dari makanan tidak secara langsung meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.

Mengapa begitu?

Hati (liver) manusia pada dasarnya memproduksi kolesterol sendiri setiap hari. Ketika kita mengonsumsi makanan yang tinggi kolesterol, hati secara otomatis akan menyeimbangkan jumlahnya dengan mengurangi produksinya sendiri.

Justru di dalam kuning telur tersimpan gudang gizi penting seperti Vitamin A, D, E, kolin (bagus untuk otak), serta antioksidan lutein dan zeaxanthin.

Penelitian ilmiah terbaru berjudul Chicken egg: a comprehensive overview regarding feed sources and human health aspects menyimpulkan bahwa telur mengandung profil nutrisi mikro yang sangat kaya dan esensial bagi tubuh.

Selain itu, tinjauan ilmiah Egg consumption and human health: an umbrella review of observational studies yang diterbitkan dalam International Journal of Food Sciences and Nutrition menunjukkan bahwa konsumsi telur secara umum tidak berkaitan langsung dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular pada populasi sehat.

Bagi pengidap kolesterol tinggi atau diabetes, konsumsi kuning telur memang sebaiknya dibatasi (misalnya 3–4 butir seminggu) atau disiasati dengan memperbanyak porsi putih telurnya saja.

2. “Makan Telur Bikin Jerawatan atau Bisulan”

Secara medis, anggapan ini murni mitos. Bisul disebabkan oleh infeksi bakteri (Staphylococcus aureus) pada folikel rambut atau kulit, sedangkan jerawatan dipengaruhi oleh dinamika hormon, produksi minyak berlebih, dan penumpukan sel kulit mati.

Telur tidak memicu timbulnya jerawat maupun bisul. Jika ada reaksi gatal, bentol, atau masalah kulit setelah mengonsumsi telur, kemungkinan besar itu adalah tanda alergi protein telur, bukan bisul atau jerawat biasa.

3. “Telur Setengah Matang Lebih Bernutrisi”

Banyak orang percaya bahwa memasak telur hingga matang dapat merusak gizinya, sehingga memilih mengonsumsi telur setengah matang atau bahkan mentah.

Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa protein dari telur yang dimasak matang justru diserap tubuh secara lebih optimal (sekitar 90%) dibandingkan telur mentah (yang hanya diserap sekitar 50%). Selain itu, mengonsumsi telur mentah atau setengah matang berisiko terpapar bakteri Salmonella yang bisa menyebabkan keracunan makanan dan gangguan pencernaan.

4. “Warna Cangkang Telur Menentukan Kualitas Gizi”

Apakah telur bercangkang cokelat lebih sehat dibanding telur bercangkang putih?

Jawabannya, sama saja!

Warna cangkang telur semata-mata ditentukan oleh ras atau jenis ayam betina yang bertelur. Kandungan gizi, rasa, dan kualitas di dalamnya relatif sama.

Lalu bagaimana dengan bercak darah (blood spot) yang kadang kita temukan saat memecahkan telur?

Itu bukan tanda telur busuk atau hasil pembuahan, melainkan hanya akibat pecahnya pembuluh darah kecil saat telur terbentuk di dalam tubuh ayam. Telur tersebut tetap aman dikonsumsi setelah dimasak.

Tips Simple Makan Telur Tanpa Rasa Bersalah

Agar kamu bisa menikmati manfaat telur secara maksimal, perhatikan beberapa tips sederhana ini:

  1. Porsi Aman: untuk orang dewasa dengan kondisi tubuh sehat, mengonsumsi 1–2 butir telur per hari masih tergolong aman dan sangat baik untuk memenuhi kebutuhan protein harian.
  2. Pilih cara masak yang tepat: telur rebus (boiled) atau telur ceplok air (poached) jauh lebih sehat dibanding telur yang digoreng dengan metode deep frying atau margarin berlebih yang justru menambah lemak jenuh.
  3. Perhatikan kondisi medis: jika kamu memiliki riwayat kolesterol tinggi, penyakit jantung, atau diabetes, konsultasikan porsi yang paling tepat dengan dokter atau ahli gizi.

Telur bukanlah musuh kesehatan, melainkan superfood murah meriah yang kaya akan gizi harian. Kunci utama dalam menjalani pola makan sehat bukanlah memusuhi bahan makanan tertentu, melainkan menjaga porsi yang seimbang dan cara pengolahan yang tepat.

Jadi, tidak perlu ragu lagi untuk memasukkan telur ke dalam menu sarapanmu besok pagi!

Penulis           : Siti Khadijah

Editor              : Artika Rachmi Farmita

Referensi:

  • Javed, A., Imran, M., Hashmi, M. S., Javaid, U., Odoh, U. E., & Amjad, R. (2025). Chicken egg: a comprehensive overview regarding feed sources and human health aspects. World’s Poultry Science Journal. https://doi.org/10.1080/00439339.2024.2439474
  • Marventano, S., Godos, J., Tieri, M., et al. (2020). Egg consumption and human health: an umbrella review of observational studies. International Journal of Food Sciences and Nutrition. https://doi.org/10.1080/09637486.2019.1648388
admin

Recent Posts

Tarik Tambang Pernah Jadi Cabor di Olimpiade, Dihapus karena Atlet Sering Protes

Ilustrasi gambar lomba tarik tambang dibuat oleh akal imitasi. GENERASI/MALANG - Bulan Kemerdekaan di Indonesia…

4 hari ago

Sound Horeg, Penunjang Hajatan dan Hiburan Murah

Gambar dibuat dengan akal imitasi dengan tujuan memberi ilustrasi kegiatan sound horeg. GENERASI/MALANG - Belakangan…

4 hari ago

Anti Feminisme Menjawab Kebiasaan Feminis yang Sering Menyalahkan Laki-laki

GENERASI, MALANG – Kampanye feminisme hari-hari ini mungkin lebih sering terdengar publik. Media massa pun…

2 minggu ago

Mengikis Pengaruh Kolonial dalam Sejarah Lokal

https://youtu.be/gII3u4TyIv8 GENERASI, MALANG - Mengapa nama Singhasari lebih populer dikenal sebagai kerajaan dibanding Tumapel? Jawabannya,…

3 minggu ago

Retorika “Omon-Omon” di Balik Makan Bergizi Gratis

https://youtu.be/rNxIMSZ0D_k GENERASI, MALANG - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi primadona kampanye Prabowo Subianto-Gibran…

1 bulan ago

Mengapa Bahasa Inggris Orang Indonesia Masih Tertinggal?

https://youtu.be/31CpTYIzztM GENERASI, MALANG - Di tengah derasnya penggunaan media sosial, kemampuan berbahasa Inggris kini bukan…

1 bulan ago