GENERASI, MALANG – Kampanye feminisme hari-hari ini mungkin lebih sering terdengar publik. Media massa pun banyak yang memberitakan kelompok-kelompok pendukung feminisme. Namun di tengah arus kampanye feminisme yang deras itu, ada gerakan yang melawan arus.
Gerakan gelombang yang berlawanan itu bernama anti feminisme. Salah satunya Aquarina Kharisma Sari, penulis buku berjudul “Anti Feminisme”. Buku yang ia tulis tersebut merupakan kreativitas dari hasil tesis yang ia selesaikan di pascasarjana Ilmu Sosial di Fakultas Ilmu Politik dan Sosial, Universitas Brawijaya.
Di dalam bukunya, Aquarina menjelaskan perdebatan mengenai patriarki dan feminisme. Kamus Besar Bahasa Indonesia menerangkan, patriarki adalah perilaku mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu. Sedangkan feminisme adalah gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki.
Dalam program Semester Pendek ini, Aquarina mengajak diskusi mengenai relasi gender, perkembangan psikologis laki-laki, dan perubahan struktur sosial modern. “Istilah patriarki sudah mengalami pergeseran makna yang terlalu jauh dari pengertian awalnya sebagai sistem kepemimpinan ayah,” ujarnya.
Menurut Aquarina, dalam pandangan kelompok feminis saat ini, pemaknaan terhadap patriarki tidak tepat. Patriarki bukan sistem penindasan yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan, melainkan sebagai sebuah struktur sosial yang menempatkan laki-laki dewasa pada tanggung jawab memimpin, melindungi, bekerja, dan menafkahi keluarga.
Aquarina menjelaskan pandangan itu dari sudut pandang relasi primordial manusia dengan ibu. Ia berpendapat, sejak berada dalam kandungan hingga lahir, manusia memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan sosok ibu. Ikatan tersebut kemudian dipandang sebagai fondasi psikologis awal yang harus dilewati seorang anak laki-laki menuju kedewasaan.
Dalam kerangka tersebut, anak laki-laki dinilai tidak dapat terus berada dalam fase ketergantungan. Ia harus keluar dari posisi sebagai anak yang diasuh dan masuk ke dalam peran dewasa, yakni mengambil tanggung jawab terhadap orang lain.
“Proses itu digambarkan sebagai peralihan dari fase infantil menuju fase ayah. Laki-laki tidak lagi menjadi pihak yang digendong, disuapi, dan dilindungi, melainkan menjadi sosok yang memimpin, bekerja, dan memberikan perlindungan,” katanya.
Dari sudut pandang itu, konsep patriarki kemudian ditafsirkan sebagai “hukum ayah” atau kepemimpinan ayah. Istilah tersebut dikaitkan dengan asal kata Yunani yang merujuk pada ayah dan pemimpin.
Pandangan tersebut juga mengaitkan kemunculan masyarakat patriarkal dengan lahirnya kepemilikan pribadi, hukum waris, garis keturunan, tanggung jawab nafkah, hingga aturan moral.
Dalam kerangka historis tersebut, patriarki dipandang sebagai bagian dari proses manusia keluar dari kehidupan yang sepenuhnya dikendalikan naluri menuju masyarakat yang memiliki hukum, moral, agama, dan pembagian tanggung jawab.
Namun, kritik diarahkan kepada feminisme modern yang dinilai telah mempersempit istilah patriarki menjadi relasi penindasan antara laki-laki dan perempuan. Dalam narasi tersebut, feminisme disebut cenderung melihat patriarki sebagai sistem yang harus dihancurkan karena dianggap menjadi sumber ketimpangan gender.
Pandangan ini kemudian mengaitkan perubahan itu dengan apa yang disebut sebagai “feminisasi laki-laki”. Feminisasi, kata Aquarina, dimaknai sebagai kondisi ketika karakter yang dianggap feminin, seperti empati, konsensus, kelembutan, dan sikap akomodatif, semakin dominan dalam tuntutan terhadap laki-laki.
Sebaliknya, karakter yang dipersepsikan sebagai maskulin, seperti kompetisi, ketegasan, keberanian, kedisiplinan, hierarki, dan objektivitas dianggap semakin ditekan atau bahkan diberi label negatif sebagai toxic masculinity.
Pandangan tersebut berargumen bahwa ketika prinsip kepemimpinan dan tanggung jawab laki-laki melemah, laki-laki berpotensi kembali pada ketergantungan psikologis seperti pada fase kanak-kanak.
“Dalam kerangka teori psikologi yang dikemukakan Carl Gustav Jung, kondisi itu dikaitkan dengan dominasi anima atau sisi feminin dalam psikologi laki-laki,” terang Aquarina.
Laki-laki yang terlalu bergantung pada validasi eksternal kemudian dinilai berisiko kehilangan arah tanggung jawab, ketegasan, dan kemandirian. Namun, gagasan tersebut juga bersifat interpretatif dan menjadi bagian dari perdebatan panjang dalam kajian gender, psikologi, maupun sosiologi.
Dalam diskursus akademik yang lebih luas, patriarki umumnya dipahami sebagai struktur sosial yang menempatkan laki-laki lebih dominan dalam kekuasaan politik, ekonomi, keluarga, dan institusi sosial. Sementara feminisme terdiri atas banyak aliran dengan pendekatan berbeda terhadap isu kesetaraan, relasi kuasa, dan peran gender.
“Karena itu, klaim bahwa feminisme secara tunggal bertujuan menggantikan dominasi laki-laki dengan dominasi perempuan masih menjadi perdebatan dan tidak mewakili seluruh spektrum pemikiran feminis,” jelasnya.
Meski demikian, pandangan kritis tersebut menekankan satu gagasan utama: kedewasaan laki-laki seharusnya ditandai oleh kemampuan mengambil tanggung jawab, bekerja, melindungi, menahan agresi, dan memberikan kepastian bagi orang-orang yang berada dalam tanggungannya. Tanggung jawab itu dinilai bukan sebagai bentuk privilese, melainkan justru beban moral yang harus dijalankan.
Menurut pandangan tersebut, laki-laki yang mampu memikul tanggung jawab justru dinilai lebih bebas karena memiliki kemampuan menentukan pilihan dan tidak bergantung kepada figur lain. Sebaliknya, ketergantungan yang berkepanjangan dianggap dapat memunculkan frustrasi dan ketidakberdayaan.
Perdebatan mengenai feminisme dan patriarki pada akhirnya tidak berhenti pada persoalan siapa memimpin siapa. Isu tersebut menyentuh wilayah yang lebih luas. “Yakni bagaimana masyarakat mendefinisikan kedewasaan, tanggung jawab, relasi antara laki-laki dan perempuan, serta keseimbangan antara karakter maskulin dan feminin dalam kehidupan sosial.” (*)
Ilustrasi gambar lomba tarik tambang dibuat oleh akal imitasi. GENERASI/MALANG - Bulan Kemerdekaan di Indonesia…
Ilustrasi gambar telur dibuat oleh akal imitasi. GENERASI/MALANG - Pernahkah kamu mendengar celetukan bahwa sering…
Gambar dibuat dengan akal imitasi dengan tujuan memberi ilustrasi kegiatan sound horeg. GENERASI/MALANG - Belakangan…
https://youtu.be/gII3u4TyIv8 GENERASI, MALANG - Mengapa nama Singhasari lebih populer dikenal sebagai kerajaan dibanding Tumapel? Jawabannya,…
https://youtu.be/rNxIMSZ0D_k GENERASI, MALANG - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi primadona kampanye Prabowo Subianto-Gibran…
https://youtu.be/31CpTYIzztM GENERASI, MALANG - Di tengah derasnya penggunaan media sosial, kemampuan berbahasa Inggris kini bukan…