Categories: Semester PendekWarta

Sound Horeg, Penunjang Hajatan dan Hiburan Murah

Gambar dibuat dengan akal imitasi dengan tujuan memberi ilustrasi kegiatan sound horeg.

GENERASI/MALANG – Belakangan ini, kita makin sering menyaksikan fenomena sound horeg meramaikan berbagai perayaan di Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur. Pengeras suara raksasa ini telah berkembang menjadi subkultur audio skala besar yang begitu populer.

Dalam Bahasa Jawa, kata “horeg” atau “horek” berarti bergetar atau bergoyang hebat. Dalam konteks budaya populer, istilah ini melekat pada jajaran pengeras suara berdaya ribuan Watt yang dimuat di atas armada truk.

Sound itu memutar musik bernuansa sub-bass ekstrem, umumnya memutar musik disko, remiks, dangdut koplo, atau EDM, lengkap dengan gemerlap lampu lighting. Kemeriahan itu juga diikuti iringan tarian massa sepanjang rute karnaval maupun pesta rakyat.

Namun, tahukah kamu dari mana sebenarnya tradisi sound horeg ini bermula?

Dari Penunjang Hajatan Menjadi Hiburan Utama

Jauh sebelum viral seperti sekarang, sound horeg berawal dari jasa penyewaan pengeras suara biasa untuk hajatan pedesaan, seperti resepsi pernikahan, khitanan, hingga pengajian. Seiring berjalannya waktu, fungsi sound system mengalami pergeseran, tidak lagi sekadar alat bantu pengeras suara penunjang acara, melainkan bertransformasi menjadi atraksi hiburan utama warga.

Evolusi rekayasa audio lokal dari susunan speaker kecil menjadi setup raksasa pun menyebar masif di Jawa Timur. Memasuki era 2010-an, tren ini semakin popular dengan adanya format battle sound atau tradisi cek sound kompetitif.

Sejak saat itu, adu keras dan kejelasan suara antar-pemilik sound system resmi menjadi arena prestise baru.

Industrialisasi, Komunitas Fans, dan Ekosistem Ekonomi

Kini, penyelenggara festival maupun panitia acara desa rela merogoh kocek dalam-dalam untuk menyewa penyedia jasa sound horeg. Transformasi ini mengubah usaha penyewaan lokal menjadi industri kreatif beromzet ratusan juta hingga miliaran rupiah, lengkap dengan investasi peralatan audio impor, genset industri raksasa, hingga tata cahaya panggung yang megah.

Uniknya, fenomena ini turut melahirkan subkultur baru. Muncul basis penggemar fanatik penikmat suara bass, pencipta konten di YouTube dan TikTok yang mengulas teknis audio, hingga penjualan merchandise resmi dari masing-masing grup sound.

Dua Sisi Mata Uang: Menggerakkan Ekonomi vs Dampak Sosial

Keberadaan ekosistem sound horeg tak lepas dari pro dan kontra yang hangat diperbincangkan. Ada dampak positif. Sound horeg terbukti menjadi mesin penggerak ekonomi lokal.

Kehadirannya menghidupkan UMKM, pedagang kaki lima, jasa persewaan truk, hingga menyerap tenaga kerja teknisi audio. Selain itu, ajang ini menjadi wadah ekspresi kreativitas dan gotong royong anak muda di pedesaan.

Sisi negatifnya, getaran frekuensi rendah (sub-bass) berdaya tinggi kerap memicu kerusakan fisik fasilitas warga, seperti kaca jendela pecah, atap rumah rontok, hingga dinding bangunan retak. Risiko paparan tingkat kebisingan (desibel) yang melebihi batas aman juga mengancam kesehatan pendengaran. Di samping itu, timbulnya gangguan ketertiban umum sehingga mulai ada pengawasan ketat melalui aturan pembatasan jam operasional.

Masa Depan Sound Horeg

Perjalanan sejarah sound horeg memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi pengeras suara hajatan sederhana berevolusi menjadi fenomena budaya pop lokal berbasis teknologi audio dan kebersamaan warga.

Agar tradisi hiburan rakyat ini dapat terus berjalan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kenyamanan publik, formulasi regulasi yang tegas, seperti tata kelola rute acara, jam operasional, serta pembatasan tingkat desibel yang aman, menjadi kunci utama agar sound horeg tetap bisa dinikmati bersama tanpa merugikan masyarakat sekitar.

Dosen Sosiologi Universitas Negeri Malang, Nora Titahning Ayudha, menilai fenomena sound horeg ini merupakan cerminan cara masyarakat mengakses hiburan sekaligus mendorong peluang ekosistem ekonomi baru.

Menurut Nora, aktivitas ini telah melibatkan banyak pihak, mulai dari artis, pelaku sound system, hingga pedagang kaki lima yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan tersebut.

Namun, ia menyoroti bahwa persoalan utama muncul karena aktivitas ini belum dikelola secara sistematis, baik dari sisi durasi maupun penggunaan ruang publik.

“Misalkan durasinya yang seharian penuh dan itu tidak diatur secara sistematis,” ujar Nora dalam program Semester Pendek yang bisa diakses di sini.

Ia menjelaskan, kebisingan yang berdampak pada kesehatan dan kualitas properti di sekitar area yang dilalui sound horeg sering dikeluhkan warga. Nora membedakan sound horeg dengan tradisi karnaval kampung yang menurutnya lebih layak disebut sebagai bentuk preservasi budaya.

Ia menjelaskan bahwa karnaval memiliki batasan waktu dan lokasi yang jelas, sementara sound horeg*cenderung tidak terbatas baik dari sisi waktu maupun tempat.

Ia juga menegaskan bahwa fenomena ini tidak dapat dikategorikan sebagai bentuk perlawanan sosial kelompok masyarakat kelas bawah, karena tidak membawa narasi perjuangan atau protes tertentu.

“Per hari ini yang bisa kita tangkap ini antara voice dan noise,” katanya.

Ia menambahkan bahwa aktivitas tersebut murni bersifat hiburan dan menjadi sumber ekonomi bagi pelakunya. Sebagai solusi, Nora berpendapat agar pemerintah selaku regulator menerapkan aturan serupa dengan penyelenggaraan konser musik, yakni dengan menetapkan batas volume suara, durasi, dan lokasi yang diperbolehkan.

Ia meyakini pendekatan ini dapat mengurai polemik tanpa perlu mengorbankan aspek ekonomi yang telah terbentuk di sekitar aktivitas tersebut.

Penulis           : Siti Khadijah, Budi Akbar

Editor              : Artika Rachmi Farmita

admin

Recent Posts

Tarik Tambang Pernah Jadi Cabor di Olimpiade, Dihapus karena Atlet Sering Protes

Ilustrasi gambar lomba tarik tambang dibuat oleh akal imitasi. GENERASI/MALANG - Bulan Kemerdekaan di Indonesia…

4 hari ago

Mitos Telur dan Kebenaran di Baliknya

Ilustrasi gambar telur dibuat oleh akal imitasi. GENERASI/MALANG - Pernahkah kamu mendengar celetukan bahwa sering…

4 hari ago

Anti Feminisme Menjawab Kebiasaan Feminis yang Sering Menyalahkan Laki-laki

GENERASI, MALANG – Kampanye feminisme hari-hari ini mungkin lebih sering terdengar publik. Media massa pun…

2 minggu ago

Mengikis Pengaruh Kolonial dalam Sejarah Lokal

https://youtu.be/gII3u4TyIv8 GENERASI, MALANG - Mengapa nama Singhasari lebih populer dikenal sebagai kerajaan dibanding Tumapel? Jawabannya,…

3 minggu ago

Retorika “Omon-Omon” di Balik Makan Bergizi Gratis

https://youtu.be/rNxIMSZ0D_k GENERASI, MALANG - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi primadona kampanye Prabowo Subianto-Gibran…

1 bulan ago

Mengapa Bahasa Inggris Orang Indonesia Masih Tertinggal?

https://youtu.be/31CpTYIzztM GENERASI, MALANG - Di tengah derasnya penggunaan media sosial, kemampuan berbahasa Inggris kini bukan…

1 bulan ago