GENERASI, MALANG-Keramaian Car Free Day di Jalan Ijen, Kota Malang selalu unik. Tidak hanya orang berjalan kaki, di dalam keramaian itu sering sekali muncul kampanye atau kegiatan sosial.
Pada 2 Agustus 2026, beberapa orang berjalan kaki dengan membawa tempat minum pribadi. Mereka juga memberikan tantangan kepada siapapun untuk menjalankan tantangan beli jajanan bebas plastik.
Gerakan tersebut adalah bagian dari edukasi sekaligus kampanye Trash Hero Tumapel yang mengajak warga konsisten terhadap niat menjaga lingkungan dari bahaya plastik.
Ketua Trash Hero Tumapel, Coqi Basil mengungkapkan, kesadaran memilah sampah plastik di masyarakat Kota Malang masih rendah. Menurutnya, langkah kecil pengurangan plastik sekali pakai memerlukan konsistensi serta kepedulian bersama.
Aksi nyata di lapangan menjadi kunci utama dalam merawat kesadaran publik. Kampanye yang Eco-Picnic yang digelar Trash Hero Tumapel itu menawarkan kampanye ramah lingkungan berupa piknik santai.

Tak hanya mengenalkan gaya hidup ramah lingkungan, kegiatan Eco-Picnic digelar dengan melibatkan pelaku usaha mikro lokal. Usai berbelanja, warga yang hadir saat Car Free Day bersama relawan diajak berkumpul untuk mengikuti sharing session.
Penghitungan jejak karbon menjadi salah satu sesi berbagi pendapat tersebut. Masyarakat dari berbagai kalangan usia antusias mempelajari kalkulasi emisi karbon harian.
“Kami bersyukur sekali hari ini itu semua usia datang,” ucap Ketua chapter Tumapel, Coqi Basil.
Trash Hero Tumapel sendiri berfokus mengurangi sampah plastik sekali pakai. Komunitas lingkungan ini berakar dari gerakan global yang berpusat di Swiss.
Di kawasan Malang Raya, jaringan relawan peduli kebersihan kawasan ini berhimpun dalam chapter Tumapel. Berdiri sejak tahun 2018, komunitas ini digerakkan oleh 25 relawan aktif secara rutin setiap hari. “Sekarang di Indonesia ada 42 chapter,” ujarnya.
Menurut Basil, panggilan karibnya, masyarakat Kota Malang sebenarnya sudah memahami bahaya penggunaan plastik sekali pakai. Namun tingkat kesadaran tinggi tersebut belum sepenuhnya diterapkan dalam kehidupan harian.
Berdasarkan data internal yang mereka olah, 66 persen warga Kota Malang masih menggunakan plastik sekali pakai. “Cuma yang sudah mempraktikkan tidak sekali pakai baru sekitar 34%,” katanya.
Maka dari itu, ia menilai edukasi perubahan perilaku memerlukan pendekatan langsung yang konsisten di tengah masyarakat. Penyebaran informasi melalui media sosial juga membutuhkan pemeliharaan komunikasi secara berkala.
“Masyarakat perlu saling mengingatkan, saling memberikan saran lah.”
Trash Hero Tumapel berencana memperluas jangkauan edukasi ke wilayah perdesaan. Kerja sama antar organisasi terus diperkuat guna menjangkau seluruh lapisan masyarakat luas. Rencananya, Eco-Picnic ini akan dilaksanakan di lokasi yang berbeda-beda.
Pengelolaan relawan operasional menerapkan sistem seleksi berbasis masa percobaan berkala. Pendekatan ini menjamin komitmen serta kesiapan anggota dalam menjalankan program kerja. “Sistem batch ini bahkan baru tahun ini kami laksanakan,” tutur Basil.
Kebutuhan pendanaan operasional komunitas secara mandiri ditanggung oleh para anggota. Dukungan logistik dari publik turut membantu kelancaran berbagai program edukasi lingkungan.
“Sejauh ini, kami bergerak secara swadaya,” terangnya. (*)
Penulis: Artika Farmita
Editor: Budi Akbar

