
Pernah mendengar pepatah bagai sayur tanpa garam? Maknanya tak lain adalah sesuatu yang kurang lengkap sehingga tidak nikmat untuk dirasakan. Di kehidupan nyata, garam menjadi komponen yang tidak terpisahkan dari setiap jenis masakan.
Kehadirannya di dapur dan sajian makanan kerap disalahkan menjadi satu-satunya penyebab gejala hipertensi. Garam dapur atau natrium klorida menjadi musuh bagi orang-orang yang mengidap tekanan darah tinggi atau hipertensi. Namun, jika menelaah temuan-temuan ilmiah terbaru, mekanisme di balik hipertensi ternyata jauh lebih kompleks. Garam bukan satu-satunya penyebab dominan!
Riset terkini menunjukkan bahwa garam memang berkontribusi, tetapi bukan satu-satunya pemicu tunggal. Efek garam terhadap tekanan darah sangat bergantung pada kondisi biologis organ tubuh hingga ekosistem mikrobioma di dalam usus manusia.
Peran Ginjal dan Fenomena Salt-Sensitive Hypertension
Tidak semua orang merespon garam dengan cara yang sama. Penelitian dari jurnal Hypertension (American Heart Association) menegaskan konsep Salt-Sensitive Hypertension (SS-HT) atau hipertensi sensitif garam.
Nah, dalam jurnal tersebut dijelaskan sensitivitas garam. Ada sifat individu, yakni hanya kelompok individu yang sensitif terhadap garam yang mengalami lonjakan tekanan darah signifikan saat mengonsumsi natrium tinggi.
Peran kunci ginjal juga sangat penting. Ginjal memegang peranan sentral dalam mengatur ekskresi natrium. Ketika fungsi ginjal terganggu, baik karena faktor penuaan, hormon sistem renin-angiotensin-aldosterone, maupun obesitas, kemampuan tubuh untuk membuang kelebihan garam menurun, sehingga memicu peningkatan tekanan darah.
Faktor genetik dan penuaan juga memengaruhi. Sensitivitas terhadap garam cenderung meningkat seiring bertambahnya usia akibat penurunan hemodinamik dan fungsi filtrasi ginjal secara alami.
Sementara itu, penelitian yang dipublikasikan dalam Circulation Research menemukan jalur biokimia baru yang menghubungkan pola makan tinggi garam dengan hipertensi. Pola ini terlihat melalui ekosistem bakteri usus (gut microbiota).
Diet tinggi garam terbukti merusak keseimbangan flora usus, secara spesifik menurunkan populasi bakteri baik seperti Bacteroides fragilis dan kadar asam arakidonat. Penurunan bakteri tersebut memicu usus untuk memproduksi hormon steroid (corticosterone) berlebihan.
Kenaikan kadar kortikosteron dalam darah inilah yang mendorong penyempitan pembuluh darah dan menaikkan tekanan sistolik maupun diastolik. Menariknya, ketika mikrobioma dari individu yang sehat ditransplantasikan (Fecal Microbiota Transplantation), tekanan darah pada subjek yang mengalami hipertensi akibat garam berhasil diturunkan secara signifikan.
Faktor Penyeimbang: Nutrisi dan Gaya Hidup
Menyalahkan garam sepenuhnya tidak tepat. Sering kali, yang terjadi juga mengabaikan pola asupan gizi secara menyeluruh.
Penelitian nutrisi klinis modern (American Journal of Clinical Nutrition) dan tinjauan kesehatan kardiovaskular menekankan bahwa dampaknya ditentukan oleh keseluruhan pola makan.
Masalah sering kali bukan hanya karena terlalu banyak garam, tetapi juga kurangnya asupan makanan kaya kalium dan asam lemak tak jenuh yang berfungsi menjaga kelenturan pembuluh darah. Makanan olahan (processed foods), daging olahan tinggi pengawet, stres kronis, serta minimnya aktivitas fisik turut memperburuk resistensi pembuluh darah.
Garam Bukan Biang Kerok Tunggal
Mengonsumsi garam berlebihan memang terbukti meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi individu yang secara genetik sensitif terhadap natrium atau memiliki penurunan fungsi ginjal. Namun, garam bukanlah satu-satunya penyebab utama hipertensi.
Hipertensi adalah hasil interaksi kompleks antara faktor ginjal, keseimbangan mikrobioma usus, regulasi hormon, serta pola hidup secara keseluruhan. Langkah terbaik bukan sekadar memusuhi garam dapur, melainkan menjaga pola makan seimbang, membatasi makanan olahan tinggi pengawet, serta menjaga kesehatan organ pencernaan dan ginjal.
Penulis : Siti Khadijah
Editor : Artika Rachmi Farmita
Referensi:
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0002916523329824 https://www.ahajournals.org/doi/full/10.1161/HYPERTENSIONAHA.123.21369 https://www.ahajournals.org/doi/full/10.1161/CIRCRESAHA.119.316
