
GENE/MALANG – Kelapa sawit yang diproduksi menjadi berbagai bahan kebutuhan hidup menyisakan limbah. Limbah itu Bernama Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Setelah buah sawit diperas habis menjadi minyak (Crude Palm Oil), gagang tandannya yang berserat cuma menjadi tumpukan sampah di perkebunan.
Di tangan para peneliti, limbah yang tadinya tidak bernilai itu diubah menjadi bioetanol. Bahan yang digadang-gadang menjadi bahan bakar masa depan.
Awalnya, bioetanol dibuat dari bahan pangan kaya gula atau pati, seperti jagung, tebu, atau singkong. Konsep ini bagus untuk lingkungan, tapi memicu masalah baru: persaingan pangan vs energi.
Kalau singkong atau tebu dipotong melimpah untuk bahan bakar mobil, harga bahan makanan pokok bisa melonjak naik. Pasalnya, misal gula, berbahan asal tebu. Tepung yang digunakan untuk membuat roti juga berbahan awal singkong.
Nah, disinilah hebatnya bioetanol generasi kedua (2G) yang berasal dari sawit. Peneliti berfokus memanfaatkan bahan ber-lignoselulosa, alias limbah padat yang berserat tinggi, salah satunya TKKS ini.
Hasilnya? Kita bisa memproduksi energi bersih tanpa perlu buka lahan baru apalagi mengganggu pasokan makanan di dapur. Pengolahan limbah ini bukan sekadar riset di atas kertas.
Berbagai lembaga riset nasional seperti BRIN hingga kampus-kampus di Indonesia terus mengulik formula enzim dan mikroba lokal agar proses fermentasi ini semakin murah.
Bahkan baru-baru ini, kolaborasi antara Kemdiktisaintek dan Pertamina juga mulai menjajaki pembangunan pilot plant untuk menguji coba teknologi pengolahan TKKS ini dalam skala industri. Targetnya untuk membuktikan bahwa teknologi ramah lingkungan ini hemat dan siap diproduksi massal.
Kenapa Ini Penting Buat Kita?
Selain bikin napas bumi lebih lega karena emisi karbon kendaraan berkurang, bioetanol dari limbah sawit ini punya dampak ekonomi yang besar. Pertama, ia bisa mengurangi impor BBM. Indonesia tidak perlu bergantung penuh pada minyak bumi impor.
Kedua, prinsip ekonomi sirkular (Zero Waste). Pabrik sawit tidak menyisakan sampah, melainkan menghasilkan listrik dan bahan bakar sendiri. Ketiga, memberi nilai tambah petani. Limbah kebun rakyat yang tadinya dibuang kini punya nilai jual.
Menyulap limbah tandan kosong sawit jadi bioetanol membuktikan bahwa solusi energi bersih sebenarnya ada di sekitar kita. Dengan sentuhan sains dan teknologi, sampah perkebunan pun bisa berubah jadi energi hijau yang menggerakkan kendaraan kita sehari-hari!
Penulis : Siti Khadijah
Editor : Artika Rachmi Farmita
Referensi:
- Antara News: Kemdiktisaintek dan Pertamina kembangkan bioetanol dari tandan sawithttps://www.antaranews.com/berita/5703128/kemdiktisaintek-dan-pertamina-kembangkan-bioetanol-dari-tandan-sawit
- BRIN: https://www.brin.go.id/reviews/123707/profesor-riset-brin-olah-limbah-kelapa-sawit-jadi-bioetanol
- Sustainable strategies for anaerobic digestion of oil palm empty fruit bunches in Indonesia: a review, https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/14786451.2022.2130923
